Malang town's

Just another WordPress.com site

Tinjauan praktis tenaga kerja dari sudut pandang akuntansi biaya

Leave a comment

Biaya tenaga kerja dalam hal ini adalah tenaga kerja langsung dimana tenaga kerja yang berhubungan dengan proses produksi sehingga beban / upah  biaya dibebankan pada rekening biaya tenaga kerja langsung. Hal ini penting untuk membedakan dengan gaji karyawan, dimana gaji dibebankan pada rekening overhead pabrik.

Pembayaran upah kotor karyawan ditentukan berdasarkan 3 metode :

  1. Dasar Tarif per jam kerja

Jika karyawan diupah dengan satu tariff per jam kerja, maka upah kotornya dapat dihitung dari catatan waktu kerja. Besar upah kotor yang akan diterima adalah dengan mengalikan jumlah jam kerja termasuk lembur.

  1. Dasar tarip per unit produksi

Kalau pada tarip per jam, kerja upah kotor merupakan hasil kali tarif dengan jumlah jam kerja, maka pada metode ini produksi upah kotor dibayar sebesar tariff dengan jumlah unit produksi yang dapat dihasilkan oleh karyawan. Pada perusahaan yang menggunakan tariff per unit produksi dalam mengupah karyawannya biasanya dibuatkan suatu tariff minimum per jam kerjanya.

  1. Dasar tariff insentif

Pada metode ini upah kotor dibayarkan sebesar upah standar + jumlah insentif. Insentif ini ditambahkan karena prestasi karyawan yang dapat memproduksi lebih dari atau diatas jumlah  atau kwalitas standar yang telah ditetapkan.terlebih dahulu.

Distribusi upah

Debet : Barang dalam proses

Debet : Biaya overhead pabrik

Kredit  : Biaya gaji

Pembayaran upah bersih :

Debet :         Biaya gaji

Kredit  ;       kas

:      hutang pajak

:     Hutang Jamsostek dll

Cuti dan Hari Libur

Pembayaran upah seorang buruh  akan tetap dilakukan sementara buruh tidak bekerja karena cuti atau pada hari libur. Upah tersebut diakumulasikan tiap bulan dan didistribusikan pada seluruh produksi selama satu tahun melalui biaya overhead pabrik.

Contoh : Sebuah perusahaan memberikan cuti satu minggu dan ada 5 hari libur dalam setahun, seminggu ada 40 jam kerja, 5 hari kerja. Maka jam kerja buruh dapat dianalisa.

Waktu produksi 50 minggu x 40 jam = 2.000 jam,  waktu tidak produktif.

Cuti     1 minggu = 1 x 40 jam          = 40 jam

Libur   5 hari      = 5 x 8 jam            = 40 jam +

80 jam

Total jam kerja dibayar  2.080 jam

Persentase jam kerja yang akan dibebankan pada biaya overhead pabrik per bulan adalah : waktu tidak produktif / waktu produktif x 100 % = 80 / 2.000 x 100 % = 4 %

Jika seorang buruh pada periode  ( bulan ) tertentu mendapat upah Rp. 61.000. maka yang menjadi biaya overhead pabrik adalah 4 % x Rp. 61.000,- = Rp. 2.440 dan jurnal yang diperlukan adalah :

Debet : Biaya overhead pabrik                   Rp. 2.440

Kredit  : Biaya cuti dan libur karyawan        Rp. 2.440

Saat disetujui pembayarannya

Debet : Biaya cuti dan libur karyawan

Kredit  : Hutang upah dan gaji

Author: nurtjahja

private teacher regardless if undertaken with patience and perseverance, and faith is the key to success in any field

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s